in

A.I., Industri 4.0., dan Masa Depan: Akankah Manusia Tergantikan Robot?

Manusia diambang batas eksistensi, dapatkah tergantikan oleh kecerdasan buatan?

Seorang Anak Perempuan Menggandeng Tangan Robot Illustrasi Oleh Andy Kelly

Beberapa waktu lalu, masyarakat dihebohkan dengan wacana penggantian elemen Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan Artificial Intelligence (A.I.) atau Kecerdasan Buatan. Wacana tersebut bermula dari usul Presiden Joko Widodo untuk memangkas eselon III dan IV ASN untuk digantikan dengan A.I. demi menciptakan kecepatan dan fleksibilitas dalam pelayanan birokrasi, terutama di bidang investasi. Sebagai permulaan, sebagaimana diberitakan oleh Suara.com, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan menguji coba penggunaan A.I. mulai tahun depan.

Terlepas dari segala kontroversi yang timbul dari wacana ini, tak dapat dipungkiri bahwa penggunaan A.I. di masa kini semakin marak. Mulai dari Digital Assistant di gadget kita seperti Siri, Cortana, dan Google Assistant; sistem self-driving yang mulai digunakan perusahaan otomotif dunia seperti Tesla, Toyota, dan Mercedes-Benz; hingga berbagai macam aplikasi A.I. lainnya di berbagai bidang seperti kesehatan, keuangan, industri, militer, dan lain-lain. Terutama sekali di era Industri 4.0 sekarang ini, yang menekankan pada otomatisasi dan pembangunan industri cerdas yang saling terhubung melalui Industrial Internet of Things (IIoT), pengembangan dan penggunaan A.I. diperkirakan akan semakin pesat dan meluas.

Melihat pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini, kita tak dapat tak berpikir akan kemungkinan bahwa di masa depan, akan lahir A.I. yang memiliki kemampuan berpikir dan bertindak yang sama dengan manusia. Di masa sekarang pun, sudah terlihat tanda-tanda perkembangan itu, dimana pada tahun 2016, perusahaan Hanson Robotics dari Hong Kong telah menciptakan robot humanoid bernama Sophia yang mampu mengeluarkan ekspresi serta mengenali dan berinteraksi dengan orang lain. Melihat keadaan ini, kita pun tak bisa tak bertanya-tanya: Bagimana dampak perkembangan ini bagi umat manusia dan akibat-akibatnya? Dan, (tentu saja) apakah di masa depan, peran manusia akan digantikan oleh robot?

Robot Memainkan Piano Oleh Franck V.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sama sekali bukanlah pertanyaan baru. Sudah sejak lama, pesatnya perkembangan teknologi selalu menimbulkan dilema tersendiri bagi manusia. Di satu sisi, ada keyakinan bahwa dengan perkembangan teknologi, kehidupan manusia akan semakin mudah dan, pada akhirnya, dengan mesin dan teknologi menggantikan manusia dalam proses kerja, manusia takkan perlu lagi bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya. Dan tak dapat dipungkiri bahwa di masa sekarang, kemajuan teknologi telah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Berbagai teknologi yang kita gunakan sehari-hari, termasuk yang ditenagai oleh A.I. seperti panduan GPS, kendaraan self-driving, asisten A.I. dalam perangkat mobile kita, dan lain-lain telah memberi kontribusi positif dalam kehidupan manusia sehari-harinya.

Dilain pihak, terdapat kekhawatiran bahwa ketika kemajuan teknologi memungkinkan terciptanya aparatus yang menyerupai dan memiliki kemampuan seperti manusia (seperti A.I. atau robot humanoid), bukan tak mungkin aparatus tersebut dapat memberontak dan mengambil alih kedudukan manusia. Pandangan ini merupakan salah satu tema yang umum dipakai dalam fiksi ilmiah, dimulai dari drama R.U.R. (yang memperkenalkan kata “Robot”) karya penulis Ceko Karel Capek pada tahun 1920, yang menggambarkan bagaimana para robot yang awalnya diciptakan sebagai pekerja kemudian memberontak dan mengakibatkan punahnya ras manusia, yang diikuti karya-karya lain seperti Colossus, Battlestar Galactica, Transformers, Terminator, dan I, Robot.

Selain itu, otomatisasi dengan penggunaan teknologi robotik dan A.I. di bidang industri sebagai perwujudan Industri 4.0., diperkirakan akan menyebabkan berkurangnya kebutuhan tenaga kerja manusia di masa depan dan berpotensi menimbulkan penambahan tingkat pengangguran. Sebagaimana dikutip dari BBC News, menurut firma analisis Oxford Economics, otomatisasi industri dapat menyebabkan digantikannya sekitar 20 juta pekerja di seluruh dunia, terutama di bidang manufaktur, oleh robot pada tahun 2030. Bahkan McKinsey & Company, sebagaimana dikutip dari CNBC, memperkirakan hingga 800 juta pekerja di seluruh dunia akan digantikan oleh robot pada 2030.

Melihat keadaan dewasa ini, ketika pemindahan industri ke negara lain yang memiliki biaya produksi yang lebih murah dan penggunaan buruh migran ketimbang pekerja lokal telah menimbulkan keresahan, bahkan keguncangan politik di berbagai negara, prospek digantikannya berjuta-juta pekerja manusia oleh robot tentu akan mencemaskan banyak pihak. Bukan tak mungkin di masyarakat akan timbul sentimen negatif atas teknologi, atau bahkan sentimen anti-otomatisasi ala gerakan Luddite, dimana pekerja tekstil Inggris di masa Revolusi Industri merespon penggunaan mesin menggantikan tenaga manusia dengan menghancurkan mesin-mesin, dan bukan tak mungkin di masa depan, ketika robot humanoid yang dilengkapi A.I. telah tercipta, akan timbul sentimen anti-robot sebagaimana bisa kita lihat dalam salah satu bagian di film A.I. Artificial Intelligence karya Steven Spielberg, dimana robot-robot dihancurkan di muka umum di pasar malam.

Meskipun begitu, berbagai analisis menunjukkan bahwa dampak otomatisasi dan penggunaan robot serta A.I. dalam industri takkan sedrastis yang diperkirakan. Menurut analisis yang sama oleh Oxford Economics sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, otomatisasi di bidang industri akan menciptakan peningkatan produktifitas yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, meski pekerjaan-pekerjaan yang bersifat kasar dan tak memerlukan keahlian khusus diperkirakan akan digantikan oleh robot, pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan kreativitas dan kemampuan sosial diperkirakan akan tetap dijalankan oleh manusia “untuk berpuluh-puluh tahun ke depan”.

Adapun untuk prospek terciptanya robot dengan kecerdasan dan kemampuan fisik yang sama, bahkan melebihi manusia, tampaknya aman untuk berkata bahwa prospek tersebut masih jauh di masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa di masa kini, telah terdapat robot yang memiliki kecerdasan emosional yang mirip dengan manusia, seperti robot Sophia atau Nadine. Namun, kemampuan robot-robot tersebut masih terbatas pada kemampuan tertentu seperti berekspresi dan berinteraksi secara terbatas. Selain itu, kesulitan-kesulitan yang dialami para ilmuwan dalam mereplikasi struktur tubuh manusia pada raga robot untuk memungkinkan robot memiliki kemampuan fisik manusia – seperti berjalan, berlari, bahkan push-up – membuat prospek terciptanya robot yang betul-betul menyerupai manusia terlihat masih begitu jauh.

Meski prospek digantikan sepenuhnya manusia oleh robot tak seperti yang dikhawatirkan dan lahirnya robot yang betul-betul menyerupai manusia masih terilhat begitu jauh di masa depan, kita tak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa prospek-prospek tersebut bukan tak mungkin akan terwujud di masa hidup kita. Bagaimanapun, dalam beberapa dekade terakhir manusia telah menyaksikan kemajuan teknologi yang jauh melampaui perkiraan kita sebelumnya. Siapa orang di tahun 1980-an atau 1990-an yang percaya bahwa pada 25-30 tahun berikutnya, orang-orang akan dapat menghubungi orang lain, menonton film, bermain game, membaca buku, dan memperoleh referensi dan informasi terkini dari benda yang berukuran hanya sekitar 2x ukuran KTP?

Robot Menggantikan Profesi Manusia Ilustrasi Oleh Lucas

 Ketika masa itu tiba, kemungkinan besar kita takkan punya pilihan lain kecuali menerima keadaan tersebut, dan kita akan didorong untuk membiasakan diri dalam menjalani hidup dikelilingi robot yang menjalankan tugas manusia, mulai dari robot yang akan melayani kita di minimarket, kendaraan robotik yang akan mengantar kita bepergian dengan self-driving dengan panduan GPS dan A.I., sistem A.I. yang akan mengurus mulai dari urusan administrasi hingga pengaturan keuangan dan pola diet kita, hingga robot perawat yang akan merawat orang-orang sakit dan lansia (yang mungkin termasuk orang tua kita atau bahkan kita sendiri). Dan meskipun robot mungkin takkan menggantikan kita sebagai kaum yang dominan di Bumi, kita akan menemukan bahwa diri kita akan semakin tergantung pada robot dan A.I. dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagaimana kita pada hari ini bergantung pada internet dan gadget.

What do you think?

30 points
Upvote Downvote

Written by Alif Imam

Not Safe For Work
Click to view this post

Model Cosplay Instagram Menjual Online Air Bekas Dipakai Mandi, dan Terjual Habis Hanya Dua Hari

Konflik AS-IRAN, Akankah Menjadi Perang Dunia III?