in ,

Brexit: The Uncivil War – Metode Perang Politikus Kekinian

Brexit: Uncivil War via theconversation.com

Judul          :    Brexit: The Uncivil War

Durasi        :   1 jam 32 menit (92 menit)

Rilis            : 14 Maret 2019 (Rusia)

Sutradara  : Toby Haynes

Beberapa bulan belakangan ini, kita sering mendengarkan istilah Firehose of Falsehood (FoF) mengisi tagline media pemberitaan, artikel, dan beberapa channel youtube. FoF atau semburan selang damkar kebohongan ini merupakan sebuah model propaganda Rusia yang menggunakan kebohongan dan hoax dalam jumlah banyak dan intensitas tinggi sehingga bisa membuat masyarakat kehilangan orientasi. Metode ini juga digunakan oleh Trump dan Vladimr Putin untuk memenangkan pemilihan suara. Dan saat ini, salah satu paslon dikabarkan menggunakan metode yang sama untuk dalam pertarungan pemilu. Hhmm… Lalu, apa hubungannya dengan judul artikel ini?

Yah, sebenarnya film ini menceritakan secara gamblang mengenai pembuatan, cara kerja, dan keberhasilan metode tersebut. Lebih spesifik lagi, film ini berisi tentang tragedi politik di Britania Raya yang mengakibatkan terjadinya brexit (‘Britain’ and ‘Exit’) dan tentunya, dimotori oleh penggunaan metode FoF.

Diperankan oleh Dr. Strange, Bennedict Cumberbatch berhasil membawakan karakter Dom (Domminic Cumming) sebagai seorang ahli strategi pada kampanye politik Inggris yang jenius dan progresif. Dibalik kecerdasannya, ia memiliki masalah pribadi yang tampak jelas pada ekspresi wajah serta tingkah lakunya yang dingin. Karena sebelumnya telah gagal memimpin suatu kampanye dan akhirnya memilih untuk tidak menekuni ranah yang sama, kayaknya takut bikin klien patah hati lagi. Namun, Douglas Carswell dan Matthew Elliot berhasil membujuknya untuk memimpin kampanye Vote Leave dengan janji bahwa Dom akan mengambil alih secara penuh jalannya kampanye ini. Sejujurnya kalau dilihat-lihat sih ia memilih untuk ikutan karena sudah terlalu bosan pada semua permainan politik yang taulah gimana nyebelinnya. Lalu ketika menemui kesempatan, ia akhirnya mencoba sesuatu yang baru untuk mengatasi kebosanannya. Kalau menurut kamu gimana?

Memanfaatkan media sosial dan pendekatan secara personal, Vote Leave berhasil memainkan emosi dan mengambil simpati masyarakat dengan tagline “Take Control.” Menemukan tagline itu butuh perjalanan panjang yang bikin puyeng sekaligus kagum. Dan inspirasi terakhir berasal dari sebuah buku yang judulnya bikin touching (kalau nonton, jangan lupa peratiin deh), satu kata kemudian menyelip di tagline baru “Take Back Control.” Dom bekerja sama dengan AggregatelQ untuk menyentuh swing voters yang tidak ada dalam database manapun di Inggris. Langkah yang digunakan ini lebih maju daripada pihak Vote Remain yang masih menggunakan metode tradisional. Craig Oliver, ahli strategi dari Vote Remain mengedepankan focus grup discussion yang sudah tidak efektif dan lamban. Kedua kubu ini memiliki strategi yang bertolak belakang dan berbeda. Sehingga terlihat dengan jelas seperti apa metode yang ampuh untuk digunakan dalam pertarungan politik. Hhmmm…

Berakhir dengan kemenangan pihak pemeran utama tidak serta-merta membuat penonton merasa menang. Selain tersanjung dengan kecerdasan Dom, kemarahan dan kekecewaan juga ikut hadir.

“Apa kamu pernah berpikir, dunia seperti apa yang akan ditinggali oleh anak-anakmu ketika dewasa nanti?”

Sebuah pertanyaan menampar terngiang-ngiang dan membawa kita berpikir kembali. Ketika metode pemenangan politik semacam ini berhasil memenangkan orang-orang yang tidak pantas, seperti apakah nasib anak-anak kita kelak?

What do you think?

Written by Queen

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Website Ini Bisa membuat Penggunanya Mengatur Senyuman Mark Zuckerberg

Dikala Gabut Melanda, Game Offline Ringan Paling Seru Sejagatlah Solusinya